___________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Doa pagi dan sore

Ya Allah......, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari tekanan hutang, pajak, pembuat UU pajak dan kesewenang-wenangan manusia.

Ya Allah......ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim dan para penarik pajak serta pembuat UU pajak selain kebinasaan".

Amiiiiin
_______________________________________________________________________________________________________________________________________________

Thursday, May 24, 2018

Teroris (Bagian II): Semangat (Kepahlawanan) Yang Dipupuk Sejak Kecil

Apakah pemerintah benar-benar panik atau memang bagian dari skenario, setelah serangan terhadap gereja di Surabaya, tiba-tiba saja muncul serangan-serangan lainnya, di Polrestabes Surabaya dan di Polda Riau. Yang di Riau sepertinya sangat amatir, yaitu dengan senjata tajam. Ini bukan aksi terror bunuh diri, tetapi benar-benar bunuh diri, walaupun dari pihak polisi ada 1 yang meninggal. Tetapi dari pihak teroris 3 orang mati.

Saya membayangkan aksi di Riau ini seperti perang kemerdekaan, bambu runcing melawan karabin metraliyur (senapan mesin ringan). Sulit untuk menerima dengan akal, apa yang dipikirkan oleh orang-orang yang membawa bambu runcing atau pedang menyerang, menyongsong tembakan peluru dari moncong senapan, apalagi kaliber 6.72 mm dari AK47 atau 5.56 mm dari M-15 atau SS-1. Orang-orang itu sudah tidak memikirkan untung ruginya. Untuk yang menggunakan bom, masih bisa diterima akal. Kalkulasi potensi jumlah korban bisa melebihi yang bunuh diri. Tetapi yang pakai pedang, pisau atau bambu runcing? Dimana perhitungannya?

Tidak lama berselang banyak terduga teroris yang ditangkap dan ditembak mati, 74 orang ditangkap dan 14 ditembak mati. Harus diingat mereka ini orang-orang yang secara hukum tidak bersalah sampai dibuktikan oleh pengadilan. Statusnya sama dengan korban bom di Surabaya. Mereka ini belum melakukan aksi kekerasan. Paling-paling melawan ketika akan ditangkap. Apa ini bisa dijadikan alasan untuk menembak mati? Mungkin bisa, mungkin juga tidak. Intinya, kekerasan akan melahirkan kekerasan juga. Tekanan akan melahirkan reaksi.

Sifat yang nampak reaktif muncul dimana-mana. Ada yang mau membatasi jumlah ulama dan ada keharusan bersertifikat yang harapannya sejalur dengan pemerintah. TNI mau diperbantukan di Polri, yang notabene melanggar UU yang dibuat pemerintah sendiri. TNI itu bukan penegak hukum, sedangkan teroris itu pelanggaran hukum. Ada lagi yang aneh-aneh? Entahlah. Itu topik yang tidak menarik.

Pelajaran Sejarah: Pupuk Semangat Kekerasan
Tanpa disadari sebenarnya kekerasan dan semangat anti kemapanan itu sudah dipupuk sejak anak masuk sekolah. Sejarah Singosari, dimulai dari Ken Arok membunuh Tunggul Ametung untuk naik menjadi bupati dan mengawini istri Tunggul Ametung. Kemudian Ken Arok memberontak melawan rajanya Kertajaya untuk mejadi raja. Semanjutnya Ken Arok dibunuh oleh Anusopati. Tidak lama kemudian Anusopati dibunuh oleh Tohjaya. Dan selanjutnya.

Bahkan hal-hal sepele seperti ada orang yang menancapkan patok-patok di tanahnya orang lain bisa memicu perang yang menghabiskan kas negara. Perang Diponegoro.

Tidakkah anda berpikir bahwa mungkin ada sebagian dari pembaca sejarah perang Padri menganalogikan dengan keadaan sekarang. Kaum Adat analog dengan PDI dan barisan nasionalis di kubu Jokowi. Belanda parallel dengan pemerintah sekarang, termasuk aparat polisi. Mereka di dalam sejarah sebagai the bad guys, togut, partai setan.

Dan kaum Padri sebagai the good guys, partai Allah, berpadanan dengan HTI, FPI, Abu Bakar Ba’syir, Habib Rizieq.  Dan…., latar belakangnya punya kesamaan, yaitu keinginan kaum Padri atau HTI untuk menegakkan syariat dan menentang kaum Adat yang ingin mempertahankan status quo. Harus diingat bahwa perang Padri adalah salah satu perang yang paling lama kalau tidak yang terlama, 17 tahun yaitu dari 1815 – 1832.

Apakah ada orang berpikir untuk menganalogikan perang Padri dengan konflik dan polarisasi di masyarakat saat in? Saya tidak tahu secara pasti. Tetapi kalau sejarah punya pengaruh di bawah sadar? Itu tidak bisa dipungkiri. Masalahnya suntikan semangat keagamaan semacam ini bukan pada perang Padri saja, tetapi perang Aceh, perang Diponegoro. Dalam hikayat perang Aceh, mati melawan penguasa kemapanan (Belanda) adalah syahid. Sampai sekarang ada pepatah Minang adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, masih terdengar dan pengaruhnya kuat. Diponegoro sendiri  sampai sekarang digambarkan sebagai orang berjubah bukan sebagai pangeran yang berpakaian lurik atau beskap. Apakah pangeran Diponegoro memimpin peperangan di daerah tropis yang panas dan kelembaban yang tinggi menggunakan jubah? Akan berkeringat banyak, tidak praktis, dan akan cepat capek karena mengalami dehidrasi. Biasanya orang Jawa yang beraktivitas di luar akan telanjang dada, bukan pakai jubah. Belum lagi kyai Maja. Dia berjubah juga untuk menunjukkan bahwa kyai Maja merupakan simbol agama.

Kemerdekaan RI juga sarat dengan kekerasan. Salah satu ikon kekerasan yang sangat dipuja adalah Bung Tomo, the good guys, dengan pidatonya yang membakar semangat arek-arek Surabaya untuk melawan togut tentara Inggris yang ditumpangi Belanda. Perayaan hari kemerdekaan tidak lengkap kalau tanpa image orang memegang bambu runcing, rambut gondrong dengan ikat kepala merah-putih sambil mengacungkan tinjunya. Mati dalam perang kemerdekaan adalah mati syahid. Itu menjadi unsur untuk membakar semangat. 

 Sejarah: Senjata Makan Tuan
Coba renungkan kembali pertanyaan-pertanyaan ini. Apakah perjuangan pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Tengku Umar, ada kaitannya dengan Indonesia? Nama Indonesia baru ada mungkin setelah tahun 1920an.

Napoleon menyatakan bahwa “Sejarah adalah sekumpulan kebohongan yang disepakati.” Itu bukan pernyataan kosong, tetapi suatu realita.

Orang yang tidak ada kaitannya dengan Indonesia, seperti pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Tengku Umar, dengan sejarah bisa menjadi warga negara dan pahlawan Indonesia. Tidak hanya itu, sejarah juga memelintir nilai-nilai moral. Apakah Gajah Mada bermoral? Dia membunuh raja  Prabu Mundingwangi dari Pakuan dan putrinya yang akan menjadi mertua dan pengantin Hayam Wuruk rajanya. Yang pasti jalan Gajah Mada di kota-kota besar Indonesia merupakan jalan utama. Mungkin ada kekecualian yaitu di daerah Pasundan yang masih punya ganjelan terhadap Gajah Mada dan Hayam Wuruk. Bahwa pendidikan bisa menjadikan orang tidak bermoral seperti Gajah Mada, Hayam Wuruk (Ken Arok kalau mau ditambahi) menjadi pahlawan yang disanjung-sanjung adalah suatu kenyataan bahwa pelajaran sejarah bisa mencuci otak masyarakat, sampai-sampai manusia tidak bermoral bisa disanjung.

Secara tidak sadar, diharapkan dengan ikon-ikon itu rasa cinta pada tanah air, c.q. pemerintah akan tumbuh. Tetapi plintiran-plintiran itu kadang tidak tepat sekali ke sasarannya. Yang diterima adalah semangat anti kemapanan yang berkobar-kobar. Pemerintah dianalogikan dengan Belanda, musuh, penindas.

Saya yakin banyak pembaca yang tidak suka dengan pernyataan ini. Apa lagi yang dari kubu pro-pemerintah.

Salah satu langkah panik pemerintah adalah mau membatasi dan menyaring (sesuai dengan keinginan pemerintah) ustadz-ustadz agar ajaran radikal tidak tumbuh dan menumbuhkan semangat cinta tanah air. Tentu saja itu salah. Tumbuhnya semangat radikal itu asalnya dari (pelajaran) sejarah (baca: kebohongan yang disepakati sebagai kebenaran). Apakah itu sejarah Indonesia atau sejarah Islam. Semua isinya perang. Tidak ada kaitannya dengan agama (Islam) itu sendiri.

Contoh: Habib Rizieq dan pengikutnya bersemangat untuk memenjarakan Ahok. Pertanyaan berikut ini anda sudah pasti tahu jawabannya.

Apakah Rizieq membaca Quran? Apa dia pernah baca ayat yang bunyinya seperti ini?

Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa, maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat. (QS 6: 68)

Yang diminta Quran adalah meninggalkan orang-orang itu sampai mereka selesai mengolok-olok agama. Setelah itu, kalau mau makan, minum, pesta, ngobrol bareng lagi, silahkan! Tidak dilarang. Tetapi apa yang diminta Rizieq, yaitu penjara, adalah semangat yang melebihi ajaran Quran. Semangat Rizieq mengalahkan ajaran Quran.

Oknum-oknum pemerintah, juga presiden mungkin, ingin agar Islam diajarkan cuma Islam yang sejuk. Saya pastikan orang seperti ini, termasuk menteri agama atau apapun tidak mempelajari Quran. Islam adalah Islam, sumbernya Quran, bukan tafsir dan riwayat-riwayat yang sarat dengan semangat keagamaan yang tinggi. Bagaimana para dai memuja ahlak para pendahulunya yang dekat dengan nabi, tidak sejalan dengan ayat Quran ini:

Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: "Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan", dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezki. (QS. 62:11)

Ini mengisahkan pada saat sholat jumat, nabi sedang berkhotbah, tiba-tiba di luar masjid ada orang (berteriak-teriak) menjajakan dagangannya dan jemaah keluar untuk menonton pedagang tersebut dan tersisa hanya beberapa orang yang bisa dihitung dengan jari. Tentu saja kebanyakan riwayat-riwayat yang ada agak bertolak belakang, dalam arti sahabat-sahabat nabi iman dan kepatuhannya tinggi. Silahkan nilai sendiri, tingkat keimanan, kesopanan, kepatuhan orang seperti ini. Pada jaman Now saja, tindakan seperti ini (meninggalkan khatib berkhotbah) dianggap kurang ajar.

Jadi dari mana semangat keagamaan yang membuat Dita mau membawa keluarganya bunuh diri atau Rizieq ngotot mau memenjarakan Ahok?

Sumber-sumber selain Quran itulah yang membuat adanya Islam yang sejuk dan Islam yang radikal. Padahal sesungguhnya hanya ada Islam saja.

Membatasi dakwah Islam hanya Islam yang sejuk dan moderat itu bukan cara untuk menurunkan terorismen. Yang tepat adalah menghapuskan pelajaran sejarah dan segala bentuk cinta tanah air. Karena itulah sumber kekerasannya. Sumber kefanatikan terhadap idiologi yang kita percayai

NKRI Bukan Harga Mati
Kalau HTI dan konco-konconya berteriak: “Negara Khalifah!!” maka kubu yang berseberangan meneriakkan yel-yel: “NKRI Harga Mati!”

Harus diingat di balik sejarah, banyak hal-hal yang bisa terbaca, istilahnya read between the lines. Indonesia baru ada sejak tahun 1945 yang muncul dari reruntuhan Hindia Belanda dan kerajaan-kerajaan kecil lainnya. Bahkan lagu “Dari Sabang sampai Merauke” dulu tidak ada, melainkan “Dari Sabang sampai Bula” karena Irian baru resmi menjadi bagian dari Indonesia tahun 1969.  

Kemudian Timor Timur menjadi provinsi ke 27 Indonesia tahun 17 Juli 1976, melalui pertumpahan darah. Dan lepas lagi di tahun 2002 juga melalui pertumpahan darah. Apakah penganjur NKRI Harga Mati tidak bisa belajar dari masa lalu? Atau kekalahan semangat NKRI sengaja dihapus dari pelajaran sejarah? Belum lagi pertanyaan: Apakah NKRI Harga Mati itu setara dengan harga nyawa manusia?

Lahir dan lenyapnya suatu bangsa, adalah biasa. Bangsa Prussia, Maya, Gaelic hilang dari percaturan dunia. Belum lama, Cekoslovakia, Yugoslavia juga hilang. Timor Leste lahir. Itu bagian dari kehidupan. Mengingkari hal ini adalah suatu kebodohan.

Chauvinisme bisa membawa penderitaan bagi penganutnya. Silahkan tanya kepada Rodovan Karadzic yang divonis 40 tahun penjara oleh pengadilan Internasional. Juga kepada Slobodan Milošević yang mati di tahanan pengadilan Internasional.

Memang tidak semua penganut chauvinisme berhasil diseret ke pengadilan Internasional. Westerling misalnya yang dituduh melakukan pembunuhan massal di Sulawesi Tenggara, tidak pernah bisa diadili. Dan yang didepan mata kita, jendral Wiranto bersama 7 orang lainnya dituduh bertanggung jawab atas kematian 1400 orang Timor Timur selama periode 1 Januari and 25 Oktober 1999. Perintah penahanannya (pencekalannya) dikeluarkan oleh the Serious Crimes Unit, PBB pada 10 May 2004. 

Mungkin persoalan Wiranto sudah terselesaikan secara pembiaran (impunity) seperti Westerling, mungkin juga belum. Kalau belum, artinya kalau Wiranto pergi keluar negri punya  potensi ditangkap untuk diadili, walaupun dia jadi presiden RI.

Masih mau NKRI Harga Mati? Atau Negara Khalifah harga mati?

Renungkan lagi, berapa yang harus anda bayar. Mati barangkali.

Sekian dulu, sampai lain waktu……

Jakarta 24-May-2018


Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Wednesday, May 16, 2018

Teroris (Bagian I): Pahlawan = Teroris?


Minggu lalu banyak peristiwa kekerasan yang terjadi di republik ini. Pada hari Selasa tanggal 8 May 2018,  kita dikejutkan oleh kerusuhan di Mako Brimob, pemberontakan tahanan teroris yang mengakibatkan 5 orang anggota polisi dan 1 tahanan tewas. Kemudian serbuan masyarakat ke kantor polsek Bayah, Lebak, Banten tanggal 12 May 2018. Kemudian Minggu pagi hari tanggal 13 May 2018 kita dikejutkan oleh beberapa aksi bom bunuh diri yang hampir serentak ke 3 gereja di Surabaya. Dilanjutkan dengan pemboman oleh satu keluarga lagi ke Malporestabes Surabaya tanggal 14 May 2018, sehari sesudah pemboman serentak ke 3 gereja Surabaya. Dan terakhir, pagi ini serangan teroris dengan senjata tajam ke Mapolda Riau.
Diantara serangan-serangan ini ada yang tidak umum, atau katakanlah berpola baru, asli dari Indonesia, yaitu yang dilakukan oleh wanita ibu Puji Kuswati namanya, dengan mengikut sertakan dua anaknya yang masih kecil. Ini suatu hal yang menarik karena wanita, baik pada manusia atau pada kebanyakan hewan mempunyai sifat bawaan alam untuk memelihara kehidupan, nurturing life. Bukan merusak dan menghancurkan kehidupan. Yang sering ditemui, wanita bisa membunuh dalam keadaan terpaksa dan terpojok atau dalam keadaan mata gelap. Seorang wanita bisa membunuh bayinya sendiri dari hasil hubungan gelap misalnya karena tidak menemukan jalan keluar persoalannya. Dalam sejarah tidak banyak ditemui pahlawan wanita. Yang melakukan bunuh-bunuhan adalah kaum pria. Bahwa bisa menumbuhkan militansi dikalangan wanita sehingga bisa mendorongnya untuk melakukan aksi bom bunuh diri adalah suatu prestasi yang luar biasa atau situasinya sudah benar-benar membuat para wanita ini muak dan rela melakukan bunuh diri. Untuk melatih laki-laki untuk melakukan kamikaze (bunuh diri) itu sudah sulit, apalagi wanita, kecuali jika ada faktor kondisi.
Dengan adanya serangan ledakan bom dan serangan terhadap polisi yang berturut-turut membuat ramai di masyarakat, setidaknya di media massa dan media sosial, menyuarakan kutukan terhadap kelompok yang melakukan aksi kekerasan ini dan pemerintah/presiden Jokowi ingin membasmi  sampai ke akar-akarnya.
Tetapi ada juga oleh sebagian orang kejadian ini juga dijadikan jokes. Salah satu diantaranya di salah satu website berbunyi (dilengkapi dengan foto potongan penis) :
Viral di media sosial tentang potongan penis yang sepertinya adalah milik pelaku bom bunuh diri. Kondisi yang memprihatinkan dan berantakan ini membuat netizen bergunjing cukup ramai.
Yang menjadi pokok pembahasan adalah ketika pelaku melakukan bunuh diri tujuannya adalah bertemu bidadari surga dan bisa melakukan hubungan seksual sepuasnya.
Tapi yang jadi masalah adalah penisnya lepas dan tentu akan merepotkan nantinya. Netizen ramai membicarakan apa yang terjadi nanti ketika bertemu bidadari. Bisa jadi teroris malah diketawain sama para bidadari karena penisnya masih tertinggal di bumi dalam kondisi berantakan.
Atau meme seperti ini


Ini menunjukkan bahwa sebagian masyarakat tidak terlalu perduli atau sedih – atas kejadian tersebut. Opini EOWI adalah agnostik untuk hal seperti ini. Bagi EOWI, terorisme itu bukan ancaman. Yang jadi sasaran teroris bom adalah gereja, tempat hiburan dan polisi khususnya Densus 88. Kalau masjid dan ulama adalah sasaran orang gila. Dan kalau KPK adalah sasaran teroris dengan air keras bukan bom.
Saya jarang ke kantor polisi, tidak pernah lagi ke gereja dan jarang ke tempat-tempat hiburan seperti bar. Saya juga bukan KPK dan hanya seminggu sekali ke masjid serta tidak punya tampang ulama. Jadi teroris buat saya kecil resikonya. Jadi tidak perlu dipikirkan. Lebih baik tenaga dicerahkan untuk cari duit saja.
EOWI tidak mau ribut-ribut yang reaktif. Tetapi ada sesuatu yang menggelitik dan mengusik benak saya. Ada satu hal pokok yang paling medasar, yaitu mengerti apa yang dibicarakan. Apa itu teroris? Pembaca akan terkejut dengan kesimpulan uraian berikut ini.

Teroris dan Pahlawan adalah Satu
Sekedar untuk memuaskan rasa ingin tahu saja, mari kita simak dan renungkan arti kata teroris untuk kasus berikut ini. Mungkin banyak pembaca yang belum lahir ketika kejadian ini berlangsung.

Kejadiannya adalah pemboman bank HSBC Singapura yang dulu ada di MacDonald House, Orchard road pada tanggal 10 Maret 1965.  Aksi ini yang memakan korban 3 orang meninggal dilakukan oleh Harun Tohir, dan Usman Jannatin, anggota KKO (marinir) RI.

Pertanyaannya: Apakah Harun Tohir, dan Usman Jannatin itu teroris atau pahlawan?

Menurut bukti tertulis Singapura, Harun Tohir, dan Usman Jannatin adalah teroris. Sampai saat ini masih bisa anda lihat sendiri di MacDonald Building di Orchard road sebuah plakat yang menyebutkan secara eksplisit kata teroris itu lebih tepatnya Indonesian terrorists. Ini adalah bukti yang tidak terbantahkan bahwa Singapura menggolongkan Usman dan Harun sebagai teroris.




Di pihak lain Usman dan Harun dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, sebuah pengakuan yang tidak terbantahkan bahwa keduanya adalah pahlawan. Tidak hanya itu nama Usman Jannatin juga diabadikan sebagai nama masjid. Dan mungkin masih banyak pengakuan-pengakuan yang lain yang saya tidak tahu.

Tidak hanya itu, pemerintah RI tahun 2014, RI membeli kapal korvet Jerambak dari Brunei merubah nama kapal perang KRI tersebut menjadi Usman-Harun (359) tetapi mendapat protes dari Singapura, sehingga nama tersebut diganti menjadi KRI Bung Tomo (357).  Artinya Republik Indonesia setuju dengan Singapura. – QED.

Saya akhir uraian di atas dengan akronim QED yang merupakan kepanjangan dari Quod Erat Demonstrandum artinya "apa yang seharusnya ditunjukkan” atau secara lugas berarti “terbukti”, “bukti telah dibeberkan”. Tidak bisa untuk membantahnya lagi.

Kembali ke persoalan semula: Jadi apakah keluarga pak Dita dan bu Puji Kuswati itu teroris atau pahlawan?

Quiz
Apa bedanya sih pahlawan dan teroris untuk saya? Nyaris tidak ada. Bahkan berita bom bunuh diri bu Puji Kuswati itu mungkin juga hoax. Mungkin juga rekayasa. Siapa tahu? Hal ini patut dicurigai karena Polri mencela-mencele, ibaratnya hari ini kedele besok tempe. 

Misalnya kata kapolri jendral Tito pada tanggal 13 May 2018 dalam keterangan persnya, bahwa mereka sekeluarga (keluarga pasangan Dita-Puji) ini baru pulang dari Suriah (https://news.detik.com/berita/4018581/keluarga-pengebom-gereja-surabaya-baru-pulang-dari-suriah), tetapi para tetangganya mengatakan bahwa mereka ini tidak pernah ke Suriah seperti dilansir seorang wartawan asing ABC, David Lipson di Twitternya sekitar 4 jam setelah Kapolri Tito memberi keterangan  (https://twitter.com/davidlipson/status/995897272574464000 ).  Baru hampir sehari kemudian kapolri jendral Tito meralatnya. Mungkin kalau tidak ada David Lipson, cerita tentang keluarga pembom Dita-Puji ini dari Suriah masih sahih. Kisah teror dengan bumbu Suriah akan lebih menyakinkan dan dahsyat dari pada tidak.

Terus terang saja, untuk masalah teroris, posisi EOWI adalah agnostik. Pembahasan kasus ini sekedar untuk memuaskan intelektualitas saja. Oleh sebab itu tulisan ini akan diakhiri dengan quiz.

Kasus I
Tahun 2015 terjadi pemboman di Mall Alam Sutra yang dilakukan oleh seorang bernama Leopard Wisnu Kumala. Dari namanya patut diduga ia seorang dari etnik Cina dan beragama Kristen (mungkin bukan Katholik seperti mayoritas etnik Cina, karena nama depannya bukan tipikal nama baptis, seperti Leonardus misalnya).

Apakah Leopard Wisnu Kumala ini seorang teroris?

Kasus II
Pada tanggal 25 Februari 2003, Badan Pemerintahan Transisi PBB untuk Timor-Timur (UNTAET) mengeluarkan perintah penangkapan terhadap jendral Wiranto bersama dengan 7 orang lainnya yang bertanggung jawab atas tuduhan pembunuhan sebanyak 1400 orang, deportasi dan tindak kekerasan sebagai bagian dari kejahatan terhadap kemanusiaan (serious crime against humanity) yang dilakukan sepanjang 1 Januari – 25 oktober 1999. 

Sampai sekarang Wiranto masih menjadi buron PBB. Dan kalau dia keluar negri, bisa ditangkap untuk diadili PBB, seperti Slobodan Milocevic, Rodovan Karadzic dan Hideki Tojo.

Apakah jendral Wiranto seorang teoris? Lebih penting lagi, apakah NKRI akan menyerahkannya ke mahkamah PBB untuk diadili (dibuktikan bersalah/tidak atas tuduhan pembunuhan 1400 orang itu), jika Indonesia mau konsisten dengan UU anti terorisme?

Atau.....Wiranto seorang (calon) pahlawan yang nanti kalau meninggal dikuburkan di Taman Makam Pahlawan?

Pertanyaan terakhir yang paling mendasar: Apa itu artinya teroris?

Sekian dulu, sampai lain kali untuk bagian berikutnya.



Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Sunday, April 29, 2018

Uji Software Movie Editor

Saya sedang mencoba software movie editor. Saya tidak akan menyebut namanya. Dan saya mau minta pendapat pembaca, apakah software ini cukup layak untuk dibeli atau tidak. 

Berikut ini adalah hasilnya. Qualitas yang dihasilkannya yang terjelek saja dengan file size 26 Mb. Kalau mau yang lebih halus lagi besarnya file 450 Mb. Besar sekali.










Tolong kasih komentar......apa saja.

Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.

Friday, April 20, 2018

Hutang: Berbahaya Atau Tidak?

Ada beberapa topik yang muncul di media sosial akhir-akhir ini. Penuh pro dan kontra. Saling menyerang antara kubu yang pro-pemerintah dan kubu oposisi. Antara Rizal Ramli dan Faisal Basri yang opininya mirip dengan menteri keuangan mbak Sri Mulyani yang tentunya akan mencari pembenaran. Opini Rizal Ramli dan Faisal Basri bahwa hutang sudah mencapai level yang berbahaya, sedang opini Sri Mulyani, tentu saja mengatakan bahwa hutang Indonesia yang hanya 27% dari GDP masih jauh dari berbahaya. Yang dijadikan perbandingan adalah hutang pemerintah beberapa negara seperti Jepang (238% GDP), US (107% GDP), Singapore (111% GDP).

Karena tulisan-tulisan tsb beredar di media sosial dan media massa, EOWI tidak tahu apakah sumbernya benar-benar dari orang yang bersangkutan. EOWI juga tidak merasa perlu tabayun, mengecek apakah berita-berita tersebut asli atau fake-news. Karena EOWI tidak berniat untuk membahas opini mereka.

EOWI tidak memihak mana-mana kecuali yang waras. Lagi pula seperti yang dikatakan sebelumnya, EOWI tidak berminat membahas opini, memihak ke salah satu kubu, melainkan sekedar memberi edukasi kepada pembaca EOWI yang setia.

Pertama EOWI akan menyitir kalimat bijak dari Bible (Proverb/Amsal 22:7):

“Orang miskin menjadi hamba orang kaya. Orang yang berhutang adalah budak dari krediturnya”.

Ini adalah peringatan bahwa berhutang itu berat. Bahkan dalam tradisi Islam, orang mati sebelum dikuburkan, selalu diumumkan agar hutang sang mayat segera diselesaikan. Bahkan ada doa yang diajarkan nabi Muhammad s.a.w agar orang segera terbebas dari hutang.

Kalau agama sudah mewanti-wanti tetang hutang, tentuntya hutang itu tidak baik. Timbul pertanyaan yang agak mengusik EOWI: Adakah hutang yang baik?

Tentu saja ada. Jika kita dibayar untuk berhutang, itu namanya hutang yang baik. Sudah dikasih pinjaman, dibayar pula. Apa tidak enak? Hanya saja hutang seperti ini hanya hutang dari bapak moyangmu.

Hutang Dari Sudut Pandang Orang Waras

Munculnya issue tentang hutang pemerintah yang menanjak bukan karena SBY tidak pernah berhutang, tetapi selama SBY memerintah rasio hutang terhadap GDP turun selama 8 tahun dan mencapai titik terendahnya 22.96% di tahun 2012 Dan kemudian setelah Jokowi memerintah, rasio hutang terhadap GDP pemerintah RI naik. Walaupun di akhir pemerintahan SBY, rasio mulai naik lagi dari titik nadirnya di 22.9%. 

Rasio Hutang terhadap GDP

Kalau dilihat dari chart di atas, yang paling cepat terjadinya penurunan rasio hutang terhadap GDP adalah di jaman Gus Dur. Itu kenyataan yang tidak bisa dipungkiri. Tetapi apakah Gus Dur yang membuat rasio ini turun? Atau Mega, atau SBY, itu lain cerita. Negara ini katanya auto-pilot kok, katanya.

Kembali kepada topik awal yaitu hutang. Saya akan memberikan beberapa kasus sebagai illustrasi.

Kasus pertama, jika ada seseorang yang berhutang untuk beli villa di Puncak. Hutang ini dicicil selama 10 tahun. Selama 10 tahun ini penghasilan orang ini naik terus, bisnisnya sukses, tabungannya bertambah. Hutang seperti ini tidak termasuk hutang yang baik. Akan tetapi tidak berdampak pada keuangan orang itu. Tidak disebut hutang yang baik karena bukan hutang yang produktif dan self-liquidating. Walaupun demikian orang tersebut mampu membayar hutangnya.

Kasus kedua, seseorang meminjam uang untuk membelikan anaknya yang ke II mobil, karena anaknya yang lain sudah punya sehingga supaya ada pemerataan kemakmuran diantara anak-anaknya. Sayangnya dalam perjalanan waktu usahanya, penghasilannya relatif stagnan, tidak banyak beranjak kemana-mana. Awalnya dia mudah mencicil hutangnya, tetapi sejalan dengan waktu, kebutuhan sehari-hari juga naik dan tidak terkejar oleh kenaikan penghasilannya. Bebannya semakin berat karena harus mencicil hutang beserta bunganya dan harus menutup kebutuhan hidup yang senantiasa meningkat. Dia dan keluarganya harus tirakat. Bahkan harus menguras tabungannya.

Niatnya mungkin baik. Mungkin......, yang pasti secara keseluruhan adalah tindakan populis, pencitraan, supaya dibilang ayah yang baik yang bisa membuat semua anaknya bisa menikmati kemakmuran secara merata. Walaupun niatnya mungkin baik tetapi hasilnya tidak baik. Dalam hal ini hadith nabi innamal a’malu binniyat (perbuatan itu tergantung niatnya) harus dikaji ulang. Niatnya baik hasilnya tidak baik. Bahkan saya melihat suatu kasus nyata dimana rumah yang digunakan sebagai agunan hutang terancam disita. Niatnya baik (populis lebih tepatnya), tetapi dalam pelaksanaannya tidak punya rencana bagaimana membayarnya. Hasilnya sangat buruk......, disposable income bahkan penghasilan netto turun dan aset turun. Dalam kasus ini hutang adalah liability.

Kasus ketiga, adalah juga kasus nyata. Kira-kira tahun 1988, seseorang meminjam uang untuk menambah armada mobil sewaannya. Usahanya ini sudah berjalan 2 tahun. Dia punya strategi, jika dalam waktu 3 bulan tidak ada penyewa, maka mobil baru yang armada barunya itu akan dijual dengan rugi. Dia bisa menerima kerugian sebesar 20% - 25% sebagai stop-loss. Setiap bulan uang hasil penyewaan mobilnya bisa menutup cicilan hutang dan ia masih bisa menikmati kelebihannya. Kasus ini berakhir ketika krismon 1998 terjadi, dimana suku bunga bank melonjak sampai 60%, semua mobil di armada sewaannya dilikwidasi untuk menutup hutangnya dan .... masih ada kelebihan uang senilai 90 unit sedan (bekas dengan umur di bawah 5 tahun).

Ini yang disebut berhutang secara cerdik. Sebab jamannya Suharto, inflasi money supply M2 sekitar 27%, sedangakan bunga bank sekitar 22% - 25%. Artinya penghutang disubsidi. Kemudian, hutangnya itu digunakan untuk usaha produktif sehingga hutangnya tidak hanya self-liquidating, tetapi penghasilannya dan asset bertambah. Dalam perhitungannya, setiap Rp 1 hutangnya menghasilkan Rp 2.5 dalam jangka waktu 5 tahun. Itulah yang disebut self-liquidating debt.

Siapa yang Terbaik Mengelola Hutang Indonesia?
Bagaimana dengan Indonesia? Maksudnya jaman Jokowi.

Seperti yang digembar-gemborkan bahwa hutang dijaman Jokowi adalah untuk membangun infrastruktur agar supaya pertumbuhan ekonomi meningkat. Apa benar peningkatannya sepadan dengan hutang? Kita akan bandingkan dengan presiden-presiden era reformasi sebelumnya.

Berikut ini adalah kurva perjalanan hutang dan GDP Indonesia sejak tahun 1990. Tetapi kita hanya tertarik pada periode 1999 – 2018.




Membaca chart seperti ini sulit untuk menentukan siapa yang lebih baik dalam mengelola hutang. Oleh sebab itu kita buat tolok ukur yang menggambarkan peningkatan GDP dengan peningkatan hutang. Saya enggan menyebutnya sebagai peningkatan GDP sebagai akibat hutang atau Rp 1 hutang menghasilkan Rp X GDP. Karena peningkatan GDP bukan saja karena hutang. Tetapi hanya sebagian dari GDP adalah akibat langsung dari hutang. Walaupun demikian, rasio perubahan GDP terhadap perubahan hutang (ΔGDP/ΔHutang) mencerminkan sikap kehati-hatian pemerintah terhadap berhutang.

Tabel berikut ini menunjukkan regim yang memerintah, GDP dan hutangnya.


Presiden

Tahun
GDP, triliun Rp
Hutang, trilliun Rp
ΔGDP/ΔHutang

Awal
Akhir
Awal
Akhir
Awal
Akhir
Gus Dur/Megawati
1999
2004
1,322
2,512
561
1,327
1.63
S. B. Yudhoyono
2004
2014
2,512
10,569
1,327
2,610
6.10
Joko Widodo
2014
(2017)
10,569
13,588
2,610
3,900
2.34

Rasio ΔGDP/Δhutang yang dibikin oleh SBY adalah yang tertinggi, yaitu 6.10. Kemudian disusul oleh Jokowi, 2.34 dan yang terburuk adalah Gus Dur/Megawati.

Walaupun selama 5 tahun pemerintahan mereka, GDP Indonesia melonjak hampir 100%, tetapi kita bisa mengatakan bahwa kinerja Gus Dur/Megawati lebih buruk dari sekedar angka 1.63, karena setelah krisis seharusnya dampak hutang terhadap pertumbuhan ekonomi sangat tinggi. Pertumbuhan bisa melesat lebih cepat lagi. Akan tetapi justru di masa Megawati banyak asset negara yang dijual.

Mungkin di jaman SBY kinerja hutang Indonesia yang dicerminkan oleh tingginya ΔGDP/Δhutang karena di jaman SBY negara dibiarkan pada kondisi autopilot. Alias SBY tidak berbuat apa-apa selain mem-bail-out bank Century.  Yang pasti, di jaman SBY cari kerja lebih mudah dari pada jaman Jokowi. Saya akan menekankan kata autopilot karena akan bicarakan lagi di akhir cerita.

Di era Jokowi infrastruktur dibikin dimana-mana. Dengan adanya pembangunan seperti ini diharapkan ekonomi akan tumbuh lebih baik dan pemanfaatan hutang menjadi semakin baik. Tetapi kenapa hal yang seperti ini tidak terjadi? Ada yamg salahkah? Mari kita lihat apa yang dibangun Jokowi.

EOWI menduga dibangun Jokowi tidak memandang keekonomian proyek, atau dipandang dengan kacamata tukang las listrik. Contoh pertama adalah jalan Trans-Papua. Dasarnya jelas bukan ekonomi. Dengan penduduk 3.5 juta jiwa di seluruh pulau yang besarnya 50 kali Jabodetabek, sulit dibilang dasarnya ekonomi. Dengan jumlah penduduk sedikit yang hanya 1/9 Jabodetabek dan wilayah 50 x Jabodetabek, sulit dikatakan bahwa penggunaannya effektif. Kalau ada mobil lewat setiap jam saja sudah bagus. Dipihak lain ada pembatasan mobil di Jabodetabek dengan sistem ganjil-genap di beberapa jalan tolnya. Dengan kata lain Jabodetabek lebih memerlukan dari pada Papua.

Saya akan beri contoh bahwa Papua kurang memerlukan jalan antar wilayah. Sekitar 3 – 8 tahun lalu anda melakukan google map di wilayah Bintuni, akan terlihat garis-garis saling memotong menghubungkan Topoi, Nagote, SP dan sekitarnya. Itu adalah jalan-jalan yang dibikin oleh Genting Energy Pte, PT Varita dan Jayanti. Karena kegiatan mereka menurun, jalan-jalan itu sebagian kurang terpelihara dan kembali agak menghutan. Garis-garis itu saat ini terlihat di Google map agak memudar. Kalau di Bintuni jalan-jalan kurang terpelihara karena jarang dipakai, kenapa harus bikin baru? Bukan kah lebih masuk di akal jika pembuatan jalan itu di wilayah Jabodetabek yang macet?

Mungkin alasannya membangun Trans-Papua agar rakyat Papua menikmati pembangunan, maksudnya pemerataan hasil pembangunan. Bukankah lebih murah memindahkan 3.5 juta penduduk Papua ke Jawa atau Sumatera dari pada membuat Papua seperti Jabodetabek?

Jalan perbatasan Kalimantan, juga mungkin bukan yang didasari atas pertimbangan ekonomi, melainkan suatu beban liability. Kalau tujuan membangun jalan tersebut untuk menjaga keutuhan wilayah, artinya wilayah ini sudah menjadi liability. Seperti Timor-Timur dulu. Kita harus bersyukur Timor-Timur lepas dari Negara Kesatuan (yang tidak bersatu lagi) RI. Karena Timor-Timur sejak awal sudah merupakan liability. Pembangunan disana yang tujuannya untuk menyenangkan rakyat Timor-Timur dengan demikian diharapkan mereka suka bergabung dengan NKRI. Tetapi, karena pertimbangannya bukan ekonomi, maka artinya liability. Lama-lama tidak tahan juga NKRI.

Jalan-jalan layang untuk busway, elevated busway, itu juga tidak masuk akal. Seperti jalan layang busway di jl. Tendean......, masih baik kalau setiap menit dilalui kendaraan. Seringnya 15 menit sekali atau lebih lama, padahal di bawahnya macet.

Saya tidak akan berlama-lama panjang lebar membahas pembangunan infrastruktur Jokowi. Anda bisa lihat sendiri. Mungkin nantinya elevated busway akan menelan korban. Di Pancoran nantinya kita bisa bersalaman dengan patung dirgantara yang tingginya 30 meteran. Bayangkan kalau anda sakit jantung (yang tidak diketahui) harus mendaki 30 meter. Tetapi itu bukan jamannya Jokowi lagi......

Renungan
Kembali pada judul di atas, Hutang: Berbahaya Atau Tidak? Jawabnya bisa iya dan bisa tidak, bergantung pada penggunaannya. Berhutang yang bijaksana adalah jika digunakan untuk hal-hal yang produktif sehingga bisa menjadi self-liquidating, hutang itu melunasi sendiri. Penggunaan hutang itu harus didasari atas pertimbangan dan perhitungan ekonomis, bukan pemerataan kemakmuran, bukan juga mempertahankan kedaulatan dan bukan juga untuk tujuan-tujuan popularitas. Saya tidak melihat hal ini dilakukan oleh rejim Jokowi. Dan......, mungkin juga penggantinya nanti. Nampaknya pemerintah semakin gatal untuk mencampuri urusan rakyatnya. Banyak yang tidak bisa melihat autopilot lebih baik dari pada pembangunan untuk pemerataan, untuk menjaga keutuhan kedaulatan wilayah, untuk tujuan populis,....... Akan lebih baik lagi jika rakyat tidak diurisi oleh pemerintah. Tentu saja anggota DPR harus dikurangi sampai 50 orang saja, kementerian hanya 4, tidak ada wakil presiden, pegawai negri dikurangi sampai 10% saja dan provinsi diciutkan, pajak dikurangi banyak (dihilangkan). Seperti jaman Belanda dulu, pemerintahan yang kecil. Untuk apa semua itu diadakan jika rakyat tidak diurusi lagi.

Jadi......hutang yang pemakaiannya tidak didasari oleh pertimbangan dan perhitungan ekonomi, akhirnya akan membawa bencana. Walaupun tidak dikorupsi. Kapan bencana itu datang? Mungkin tidak dalam waktu 2 – 5 tahun mendatang. Tetapi dalam dekade mendatang......, mungkin.

Harus diingat hutang yang tidak self-liquidating itu adalah adalah pelanggaran hak-hak mereka yang belum punya hak memilih/vote (belum berumur). Mereka yang tidak memilih itulah yang harus menanggung beban nantinya. Agak menyimpang dari apa yang tertulis di Proverb 22:7, yaitu mereka, generasi mendatang lah yang akan jadi budak untuk para kreditur pendahulunya, bapak-bapaknya yang tidak dipilihnya (dalam pemilu). Enak ya pemerintah? Untuk hutang demokrasi dan keadilan tidak berlaku.



Jakarta 20 April 2018


Disclaimer: Ekonomi (dan investasi) bukan sains dan tidak pernah dibuktikan secara eksperimen; tulisan ini dimaksudkan sebagai hiburan dan bukan sebagai anjuran berinvestasi oleh sebab itu penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan karena mengikuti informasi dari tulisan ini. Akan tetapi jika anda beruntung karena penggunaan informasi di tulisan ini, EOWI dengan suka hati kalau anda mentraktir EOWI makan-makan.